Lynx menatap kepergian gadis dan pria tua tersebut. Walau terlihat pemarah, Lynx bisa merasakan keagungan yang tidak biasa pada wanita itu. Ada sesuatu yang membuatnya berbeda dari kebanyakan gadis lainnya. "Sepertinya gadis itu bukan sekedar anak bangsawan biasa."

Lynx lalu memalingkan pandangannya ke arah para perampok yang melarikan diri. Dalam hitungan kurang dari sedetik, tubuhnya sudah muncul di hadapan sang pimpinan perampok.

"Pimpinan, lihat... bagaimana mungkin pemuda ini tiba-tiba ada di depan kita?" kata salah satu anggota dengan suara gemetar. Pandangannya gelisah, menatap ke segala arah, seolah bayangan gadis yang membunuh rekannya masih menari-nari di pelupuk mata. Wajahnya pucat, napasnya memburu, tubuhnya nyaris kehilangan kendali karena ketakutan.

"Lihat, gadis itu tidak bersamanya. Sepertinya dia memang cari mati," ujar salah satu perampok dengan nada keji, senyumnya menyeringai penuh rasa puas.

"Benar," sahut sang pimpinan sambil meludahkan ludah ke tanah. "Cepat bunuh dia. Setelah itu kita pergi dari sini sebelum gadis dan pria tua itu datang kembali."

Tanpa menunggu aba-aba lagi, salah satu perampok langsung menerjang Lynx, mengayunkan pedangnya dengan keras. Namun Lynx hanya sedikit memiringkan tubuhnya, dan serangan itu meleset begitu saja, anginnya bahkan tak menyentuh ujung jubah putihnya.

Melihat rekannya gagal, dua perampok lain segera ikut maju, menyerang bersamaan dari dua arah. Tapi Lynx tetap santai. Dengan gerakan ringan dan mata tenang, dia berkelit ke kiri dan ke kanan, tubuhnya seolah mengalir mengikuti angin. Tidak satu pun serangan menyentuh dirinya, dan ia bahkan belum mengangkat tangan untuk membalas.

"Kenapa dia tidak melawan balik?" gumam salah satu perampok mulai gelisah.

Pimpinan mereka tidak tinggal diam. Wajahnya menegang, lalu ia menghunus pedangnya perlahan. Mata tajamnya menatap Lynx yang masih bergerak ringan di antara serangan anak buahnya.

"Single Line Snake!"

Teriakannya menggema, diiringi gerakan cepat pedangnya yang seperti menyatu dengan hembusan angin. Dari dalam sarung, pedang meluncur lurus dalam satu garis serangan, bagaikan ular yang menyelinap dan menggigit mangsanya dari celah tersempit. Gerakannya hampir tak terlihat, namun aura tajamnya memecah udara.

Lynx yang berniat menghindar, tiba-tiba merasakan tubuhnya berat. Seperti ada aliran energi dalam dirinya yang mendadak macet. Tubuhnya gagal merespons gerakan pikirannya. Ia sedikit terlambat menghindar.

Srak!

Pedang itu menggores sisi tubuhnya. Luka terbuka di sisi pinggang, darah segar menetes dan tubuh Lynx terhempas ke tanah. Napasnya tercekat, tubuhnya kehilangan keseimbangan akibat hantaman tak terduga dan lemahnya koordinasi kekuatan di tubuhnya.

"Hahaha! Rasakan itu!" teriak pimpinan perampok penuh kemenangan. "Kau pikir kami bisa dikalahkan hanya dengan senyum dan gerakan ringanmu?"

Anak buahnya bersorak, mata mereka berbinar kagum. Beberapa memandang pemimpinnya dengan sorot takjub. Mereka tahu Lynx bukan lawan yang mudah, bahkan sebelumnya hampir tak bisa disentuh. Tapi sekarang, pemimpin mereka menjatuhkannya hanya dalam satu serangan.

"Pemimpin memang yang terkuat! Serangan ‘Single Line Snake’-nya memang tak tertandingi!" ujar salah satu dari mereka dengan suara penuh pujian. Yang lain tertawa lantang, seolah kematian Lynx tinggal menunggu hitungan detik.

Mendadak, udara di sekitar Lynx berubah.

Tubuhnya yang semula terkapar pelan-pelan mengangkat, dan dari balik luka di pinggangnya, aura berwarna gelap mulai merembes keluar. Bukan sekadar aura biasa, energi itu mengalir seperti kabut pekat, berputar mengelilingi tubuh Lynx, lalu menyala seperti api yang membakar namun tanpa panas… melainkan kehancuran.

Mata Lynx yang tadi tenang dan lembut kini berubah merah menyala. Tidak ada lagi senyum di wajahnya, hanya tatapan kosong nan mengerikan. Seolah ada sosok lain yang terbangun di dalam dirinya.

Aura iblis yang terpancar dari tubuhnya membuat tanah bergetar pelan, dedaunan kering beterbangan, dan hawa dingin menyelimuti hutan. Suara mendengung halus mulai terdengar di telinga para perampok, suara jeritan samar yang entah datang dari mana.

"A-aura ini… ini bukan aura manusia…" gumam salah satu perampok dengan suara tercekat.

"Aku mengenalinya... dia… dia penghancur…" suara pimpinan perampok pecah, tubuhnya jatuh terduduk, tangan gemetar mencoba menjauh.

Mata pemimpin perampok menatap Lynx lekat-lekat, wajahnya memucat. Ia mengenali aura itu. Bukan hanya karena kekuatannya yang mencekam, tapi karena ingatan masa lalunya yang menghantui.

Itu adalah aura yang pernah ia temui… ketika dia bersama anak buahnya hendak menjarah sebuah desa bernama desa Chiyang, sebuah desa kecil di sebelah utara kota Huoling, Dia menemukan kejadian yang menakutkan. Tidak tersisa satu pun rumah berdiri. Para penduduk ditemukan mati mengenaskan, terlihat saling membunuh satu sama lain, mata mereka merah penuh kegilaan, tubuh mereka seolah terbakar dari dalam saat mereka menyentuh salah satu penduduk yang terinfeksi.

Pimpinan perampok serta beberapa anak buahnya, sempat melihat sosok kabur yang menghilang dari kejauhan, seseorang yang tubuhnya diselimuti api gelap seperti sekarang… seperti pemuda di hadapannya.

"Dia… monster… itu bukan manusia!" jerit salah satu anak buahnya panik yang juga mengenali sosok di desa Chiyang. Segera dia menjatuhkan senjatanya dan mundur terbirit-birit.

Namun belum sempat mereka kabur, aura iblis dari tubuh Lynx mengamuk seperti badai. Tanah retak di bawah kakinya, dan hawa penindas memukul mental mereka seperti palu besar, membuat sebagian jatuh pingsan tanpa sempat melangkah.

Dan Lynx… hanya berdiri diam. Tapi diamnya seperti diam seekor raja iblis yang tengah bangkit dari tidur panjang.

Dengan cepat, kawanan perampok melarikan diri dengan panik dan frustasi. Tidak ada lagi keberanian tersisa di wajah mereka, hanya ketakutan mendalam yang mencengkeram jiwa. Mereka tahu, jika terus berada di tempat itu, kematian hanyalah soal waktu. Bahkan, beberapa dari mereka berlari sambil menangis seperti anak kecil, kehilangan semua harga diri sebagai kultivator jalanan.

Namun di balik punggung mereka yang menjauh, sosok Lynx berdiri tenang.

Aura iblis yang menyelubunginya perlahan mulai surut. Api hitam yang sebelumnya menyala seperti nyala amarah kini mengecil, lalu meresap kembali ke dalam tubuhnya seperti ditarik paksa.

Lynx memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Ia menggenggam dadanya, mencoba menstabilkan detak jantung yang melonjak. Energi iblis itu… tidak terkendali, dan dia bisa merasakannya meronta dari dalam, seperti hewan buas yang dipaksa masuk kembali ke kandangnya.

Tubuhnya sedikit gemetar, tapi ia berhasil meredam kekacauan dalam dirinya. Perlahan, matanya kembali ke warna normal, bening dan jernih seperti biasa.

"Apa yang terjadi dengan tubuhku sebenarnya?" gumam Lynx lirih, matanya menatap ke arah pepohonan di mana para perampok menghilang. “Mungkinkah… serangan Leena saat itu memiliki efek samping seperti ini?”

Batin Lynx terasa kacau. Ia belum pernah mengalami kehilangan kendali seperti tadi. Energi iblis keluar tanpa di arahkan, tubuhnya mendadak terasa kehilangan kekuatan.

***

Di sebuah ruangan luas yang dikelilingi dinding kaca bening, cahaya redup dari kristal-kristal spiritual berpendar lemah. Suasana sunyi, namun dipenuhi aura dingin dan manipulatif yang merayap seperti kabut tak kasat mata. Di tengah ruangan itu, seorang wanita bergaun hitam berdiri di depan meja kaca bundar, wajahnya dihiasi senyum penuh kemenangan.

Tawa dingin dan menggema keluar dari bibirnya.

"Hahaha... Bagus, Jelita. Sangat bagus," katanya, suaranya serak namun penuh rasa puas.

Ia menatap sebuah bola kristal yang memancarkan cahaya merah samar. Di dalamnya, simbol-simbol sihir kuno terus berputar pelan, menunjukkan aktivitas sihir yang sedang berlangsung.

"Minuman yang kamu berikan sudah mulai bereaksi," lanjutnya, matanya menyipit penuh kegembiraan. "Dengan meminum cairan pewaktu, pengaruh sihir dari minuman itu menjadi seperti mesin waktu, membawa tubuhnya kembali ke masa sebelum dia memperoleh kekuatannya."

Wanita itu berjalan pelan mengelilingi bola kristal, ujung jarinya menyentuh permukaan kristal seolah sedang membelai sesuatu yang sangat berharga.

"Tubuhnya menjadi lemah, tidak stabil… dan tidak lama lagi, aku bisa menyeretnya masuk ke Zona Arwah," katanya dengan nada rendah, seolah membisikkan kutukan. "Di sana, jiwanya akan hancur secara perlahan... dan setelah itu, tubuhnya yang kosong bisa kugunakan. Setelah pedang iblis itu kita dapatkan, tidak akan ada lagi yang bisa menghentikanku."

Tawa kecil kembali terdengar dari mulutnya, namun kali ini lebih pelan, lebih kejam.

Sosok wanita itu adalah Mira, penyihir yang memberikan ramuan kepada Jelita dengan janji manis bahwa Jelita akan mendapatkan Lynx.

"Semua pion sudah bergerak di papan catur," gumamnya. "Lynx, kamu boleh bermain-main sebentar. Tapi ujungnya... kamu milikku."

Ia lalu menoleh ke bayangan di sudut ruangan. “Rira… pastikan dia hidup menderita. Aku belum selesai bermain dengannya.”

